Sabtu, 16 November 2013

Harapan yang Seperti Jalan Setapak

"Harapan adalah seperti jalan di
daerah pedalaman, pada awalnya
tidak ada jalan setapak semacam
itu, namun sesudah banyak
orang berjalan di atasnya, jalan
itu tercipta.”

Lu Xun, seorang penulis asal China pernah menulis sepenggal kalimat ini. Ini mungkin pas banget buat kamu yang memang tengah merasa berharap terhadap satu keinginan. Coba deh, perhatikan kalimatnya baik-baik. 


Bagi kamu yang suka jalan-jalan ke daerah-daerah pedalaman (emang ada ya hobi kaya gini?) atau suka menjelajah alam, misal naik gunung mungkin nggak bakalan susah buat nemuin satu jalan setapak. Pernah berpikir gimana satu jalan bagus sekarang itu dibikin? Ya, pasti butuh perjuangan berat buat membuka tanah kosong untuk membuat satu jalan sampai akhirnya bisa dengan enak dilewati.

Bayangkan kamu lagi ada di hutan yang lebat (kalau mau sambil merem silakan), di mana sejauh mata memandang hanya terlihat tetumbuhan dan dedaunan yang jatuh di tanah. Satu hutan lebat, awalnya tentu tidak tersedia jalan setapak sekalipun di sana. Sampai ada 1 orang saja yang mau 'membelah' hutan tersebut. Mungkin awalnya memang terlihat susah untuk 'membelah' hutan seperti itu. Jelas saja, tidak tersedia jalan untuk lewat dan pasti ada gangguan-gangguan lain seperti misalnya kayu-kayu tajam, bebatuan, dan lain sebagainya. 

Tapi, jika 1 orang tadi mau memulai untuk menginjakkan kaki membelah hutan itu, lalu diikuti dengan orang-orang berikutnya pada akhirnya satu jalan akan terbentuk. Ya, satu jalan bekas tapak kaki orang-orang biasa lewat akan terbentuk. 

Begitu juga harapan, kawan...

Hidup seperti hutan lebat itu. Peluang untuk membuka harapan di kehidupan sama kayak peluang membuka jalan di satu hutan. Kita harus mau memulai untuk menciptakan harapan itu dengan banyak-banyak mencoba dengan usaha. 

Misalnya nih, kamu lagi pengen banget nerbitin buku. Mungkin awalnya, kamu melihat itu sebagai satu hal yang susah. Atau satu hal mustahil yang tidak mungkin kamu lakukan. Tapi, hey... jika kamu masih memandang hidup dengan cara yang seperti ini, rugi sekali bro! Buat apa hidup kalau pesimis? haha...

Ya, memang itu nggak gampang. Nggak serta merta setelah kamu ngumpulin tulisan-tulisan kamu terus dikirim ke penerbit, lalu disetujui untuk terbit dan jadilah sebuah buku. Tapi, dengan hanya kamu melihat peluang yang ada di depan mata, tanpa mau mencoba untuk publish tulisan-ulisan kamu, ini tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali angan-angan yang akan berakhir hampa. Lain cerita kalau kamu mau mencoba untuk mengirimkan naskah-naskah kamu itu, lalu berikhtiar dengan sungguh-sungguh. Mungkin awalnya akan pahit dan gangguan-gangguan untuk terbukanya satu jalan itu memang besar. Peluang untuk berhasilnya tercipta satu buku menjadi lebih besar.

Percayalah kawan. Harapan itu muncul dari serangkaian percobaan untuk memanfaatkan peluang. Peluang-peluang yang ada di depan mata kita.



Minggu, 10 November 2013

Bagaimana Jika Hidup Bisa Dimodelkan?


"Memodelkan alam adalah satu cara untuk mendekati fenomena-fenomena yang terjadi di alam dengan beberapa pendekatan-pendekatan. Bagimana jika hidup dapat dimodelkan secara matematis?"

Dalam beberapa hari ini, saya sedang disibukkan dengan sebuah praktikum pemodelan di kuliah saya. Sedikit info, kuliah saya memang sangat identik dengan yang namanya pemodelan. Pemodelan yang saya maksud di sini adalah semacam memodelkan fenomena-fenomena fisik dan dinamis yang terjadi di lingkungan laut secara numerik. Tujuan akhir dari pemodelan ini adalah terbentuknya satu model sederhana mengenai proses-proses tersebut yang nantinya akan sangat berguna untuk keperluan analisis proses-proses yang terjadi di medan yang sebenarnya.

Laut, sebagaimana komponen alam yang lain adalah satu objek yang begitu kompleks. Banyak proses terjadi di sana, yang sebenarnya tidak bisa untuk kita bahasakan dengan tingkat keakuratan 100%. Karena yang seperti itu benar-benar tidak mungkin. Lalu, jika kita sudah tau hal yang demikian, untuk apa kita melakukan pemodelan?

Minggu, 03 November 2013

Senja Hari Ini


Minggu lalu, jadwal saya sedang ramai-ramainya. Mulai dari jadwal akademis (yang karena memang lagi musim UTS), jadwal asisten, serta untuk urusan himpunan jurusan. 

Di tengah-tengah minggu yang super padat ini, tentu saya harus bisa mengatur waktu hidup saya sebaik mungkin, jika ingin semua urusan berjalan lancar, dengan hasil yang baik tentunya. Saya mengerti betul bahwa di dunia ini, masing-masing dari kita mempunyai slot waktu yang sama setiap harinya (rata-rata selama 24 jam). Dan salah satu seni dalam hidup ini adalah bagaimana cara kita untuk memanfaatkan slot waktu tersebut.

Bicara soal memanfaatkan 24 jam waktu dalam sehari semalam, saya ingin mengoceh sedikit mengenai hal ini. Permasalahan ketika kita menghadapi minggu-minggu sibuk adalah bukan dengan mengurangi plan yang menumpuk. Oke, saya berpikir sebisa-bisanya jangan sampai kita menjadikan itu sebagai opsi utama. Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan saat minggu sibuk? Saya lebih senang dengan mengurangi jam tidur saya untuk mengerjakan hal-hal yang menjadi beban sehingga menjadikan hari-hari kita sebagai hari sibuk. Dan, singkatnya semua agenda di minggu sibuk itu dapat saya lewati dengan hasil yang cukup baik.

***

Selasa, 30 Juli 2013

Dunia Anak, Dunia yang Sederhana


Dan hal penting yang membedakan antara anak-anak dan orang dewasa adalah tingkat kerumitan dari sisi memandang hidup. Secara naluriah, orang dewasa selalu melihat dunia ini dengan cara yang rumit, di mana untuk mencapai hasil yang sederhana, mereka memerlukan banyak asumsi untuk menyederhanakannya. Ini berbeda dengan anak-anak. Dunia mereka benar-benar sederhana secara naluriah. Tanpa asumsi, tanpa penyederhanaan lagi. Tertawa, berlari kesana-kemari, bermain, berteriak, juga menjerit menangis hanya untuk meminta mainan ke orang tua.
***

Sabtu, 20 Juli 2013

Saatnya Keluar dari Zona Nyaman

Malam telah berakhir untuk hari kemarin. Pagi akan segera datang dengan satu sambutan hangat dari mentari di ufuk timur. Sedikit embun pagi terasa membasahi kaca jendela kamar. Ia, embun itu adalah suatu tanda siraman kecil untuk jiwa-jiwa yang kerdil yang tak menyukai pagi datang. Melewatkan momen berharga menyaksikan hadirnya tetesan embun pagi adalah hal yang bodoh bagi mereka yang mau maju. Sejenak setelah berada pada kenyamanan di kala malam kemarin menjadi alasan kuat untuk bermalas-malasan memulai sesuatu yang baru di hari ini. Kita sudah berada di zona nyaman.

Hawa malas bisa jadi menjadi pemicu utama, dan melihat matahari pagi setelah terlelap dalam tidur malam kemarin menjadi sesuatu yang terlihat begitu menyebalkan. Kita boleh saja mempunyai mimpi selangit, tak ada satu pun yang melarang. Tapi ketahuilah mimpi saja tak cukup. “Mimpi saja, mimpi! Mimpi terus sampai mampus!” begitu mungkin gertakan orang-orang yang kolot kepada orang yang hanya bisa bermimpi tapi realisasinya nol. Kalau boleh saya katakan, mimpi yang tanpa disertai action sama saja dengan khayalan. 11-12, bisa saya katakan demikian.

Daripada Ragu-Ragu Lebih Baik Pulang

Cerita ini sebenarnya telah  terjadi di beberapa hari yang lalu. Waktu itu, Sabtu (14/07) ketika tiba masa perayaan wisudaan ITB yang kedua di tahun ini. Dan saya sedang berada dalam sebuah perjalanan menuju kampus dari tempat kosan untuk meramaikan suasana dengan mengikuti perayaan tersebut. Hari masih pagi, di mana Bandung diselimuti cuaca berawan dengan disertai rintik-rintik air hujan yang turun perlahan. Mungkin ini nyanyian dari Tuhan untuk menambah eksotisnya hari wisudaan.
Dalam sebuah perjalanan mengendarai sepeda motor yang saya parkir di tempat parkir sipil ITB, saya melangkahkan kaki menuju sekretariat himpunan. Kedatangan saya sudah ditunggu teman-teman untuk bergabung bersama dalam sebuah kelompok arak-arakan. ITB adalah sebuah kampus dengan budaya yang begitu kental. Berhimpun, musyawarah, unit, serta arak-arakan adalah beberapa di antaranya. Sebagai anggota himpunan, tentu sudah menjadi keharusan untuk mengarak rekan satu himpunan yang di hari itu telah menjadi sarjana.

Selasa, 16 Juli 2013

Makna Ganda dari Sebuah Tanda Titik

Sebagai seorang manusia, kita membutuhkan komunikasi untuk dapat berinteraksi dengan sesama. Dalam hal ini, bahasa memegang peranan penting. Hidup ini tidak sederhana. Mungkin kamu sudah tahu mengenail hal ini. Karena ketidaksederhanaan ini, sering terdapat beberapa kata—yang merupakan bagian dari bahasa yang mempunyai ejaan sama namun memberikan makna yang berbeda. Kalau saya tidak salah ingat, kata guru Bahasa Indonesia semasa SMP dulu namanya homograf.
Titik. Mungkin sebagian besar dari kita mengartikan kata ini untuk menyebutkan sebuah tanda baca “.”. Tanda ini biasanya kita gunakan untuk menandai akhir dari sebuah kalimat atau pernyataan. Ya, dalam hal ini ‘titik’ berarti ‘akhir’. Akhir berarti suatu keadaan dimana sudah tidak akan lagi kelanjutannya. Namun, sebuah kalimat yang diakhiri dengan tanda titik tidak berarti ‘tidak ada lagi kalimat setelah ini’. Betul?

Sabtu, 13 Juli 2013

Satu Cerita dari Rumah

Jumat (12/07/13). Hari ini adalah hari ketiga di bulan Ramadhan tahun ini. Dan, tidak seperti hari-hari awal di dua Ramadhan sebelumnya yang selalu saya habiskan di Bandung, awal ramadhan tahun ini saya habiskan di rumah. Liburan panjang di tahun ini tepat datang sebelum Ramadhan dan bahkan waktunya menerus sampai ke libur Lebaran. Waktu libur selama 3 bulan seharusnya menjadi hari yang begitu lama. Tetapi, libur 1 bulan pertama harus saya habiskan di Bali. Bukan untuk suatu liburan menikmati keindahan pulau itu, bukan. Tetapi sebuah kuliah lapangan di Gondol—daerah pinggiran Bali selama hampir 3 minggu memaksa saya untuk melupakan libur 1 bulan pertama. Kulit saya menjadi eksotis karena seringnya panas-panasan saat ekskursi. Okay, fine!
Berlanjut ke hari libur di bulan berikutnya. Libur bulan kedua saya habiskan di Bandung dan di rumah. Di Bandung sibuk untuk mengurus proposal majalah himpunan yang begitu ribet karena harus menunggu kerja dari tim-tim redaksi. Dan akhirnya, setelah proposal kasar jadi, dan sudah melalui pertemuan dengan kaprodi, proposal bisa teratasi. Di sisa liburan di bulan kedua, akhirnya saya bisa pulang.
Rumah... Ah akhirnya sampai juga saya di lirik terakhir lagu ‘Home’-nya Michael Buble.
I’m coming back home...

Sabtu, 02 Maret 2013

Deadline Bersama Asap Kopi

Kopi pagi ini: kurang ekstrem tapi tetap berkarakter. Tingkat kepahitan: sedang. Sama seperti keyakinan untuk 'berbicara' dengan dia.

Well well well. Saya terlalu biasa bekerja di bawah deadline. Dan baru akan bersungguh-sungguh bila telah tiba waktu menuju deadline.

Mungkin waktu untuk dia juga harus seperti itu. Diperlakukan sama seperti tugas mengumpulkan laporan. Ada batas waktu bernama deadline.

Tapi, hidup seperti kematian. Bila terus menjalaninya di bawah deadline, sementara kita tertekan di dalamnya.

Diam adalah senjata mematikan. Ada sistem memendam dalam-dalam. Akumulasi keberanian untuk sebuah kejujuran. Sampai tiba di batas waktu dan ruang. Tempat di mana kita terdesak, terhimpit lapisan tipis bernama: keterbatasan.

Jika sudah seperti itu, kemana kita akan mengadu? Apalagi berlari mencari kesempatan? Jika sudah tidak lagi kita temukan spasi ruang dan waktu? (Sementara kita hanya bisa bergerak bila ada jarak dan melangkah bila ada spasi).

Mungkin kita terlalu naif untuk memahami karakter ruang dan waktu. Tapi kenyataan tidak pernah mengenal kata naif. Dia selalu bisa menampar kita kuat-kuat. Membuat kita terjatuh dan kesal sejadi-jadinya. Lalu membuat kita sadar dan mengerti. Bahwa sebenarnya, setiap waktu adalah deadline.

"Hargailah waktu dengan baik, sebelum kesempatan untuk menghargai waktu itu habis". (Adaptasi dari quote Tukul Arwana.)


Rabu, 27 Februari 2013

Beranjak dari Nadir

27 Februari: Kembalinya jiwa dari titik nadir.

1.
Telah kembali dari keadaan jenuh karena rutinitas. Sebenarnya aneh, jenuh ini datang terlalu dini, tapi begitulah hidup: penh sensasi dan anomali. Mungkin seperti iklim. Tetapi akhirnya jiwa dapat kembali. Alhamdulillah. Di dini hari, bisa kembali bersujud (mengingat-Nya).

2.
Jenuh itu telah hilang berkat kegigihan. Relaksasi otot dan otak dan tentu saja... kopi. Kopi pagi ini berasa pas. Tidak pahit, tidak pula manis. Sama seperti cinta yang tidak banyak memberi dan juga tidak banyak menerima.

3.
Saya pembenci kesempurnaan di dunia. Sebenarnya ini cukup absurd. Karena kesempurnaan di dunia tidaklah ada (jika memang iman manusia itu tangguh). Kesempurnaan di sini adalah tentang Barcelona FC yang selalu menang selama beberapa tahun terakhir. Akhirnya digdaya mereka berakhir, setelah tim asal Italia, AC Milan memukul mereka 2-0 dan si putih Real Madrid hari ini menampar mereka lagi dengan 3-1. Sepertinya CR7 dan Varane mempunyai hobi baru: membobol gawang Pinto.

4.
Ada amanah besar yang menanti. Memilih menjadi kaki kanan "dewa oseanografi" bukan main-main. Jadi sepertinya harus berani bertarung lebih dengan pilihan dan keputusan. Seperti tweet seorang teman: "Sulitnya hdup ini ketika semuanya harus memilih. Harus ada yang dikorbankan. Aturan mutlak - @jazmanghufran"
-->

Minggu, 06 Januari 2013

Berpindah, Bukan Berpisah



Jepara, 05/01/13

Dalam sebuah perjalanan menuju kota perantauan, Bandung...

Sore ini terasa begitu berbeda. Saya harus rela untuk meninggalkan zona nyaman saya di rumah. Persoalan akademik demi memperoleh perbaikan nilai salah satu mata kuliah memaksa saya untuk meninggalkan masa liburan di rumah. Ini musim liburan semester ganjil untuk mahasiswa ITB. Dan tampaknya liburan semester pendek tidak terlalu menggembirakan bagi anak rantau. Alasannya jelas, kurang lama dan cepat habis.

Mungkin ada banyak cara bagi semua manusia untuk menikmati masa liburannya. Ada yang senang menikmatinya dengan berlibur di sebuah pendakian, menikmati sebuah perjalanan sebagai seorang pelancong atau travelling, atau bahkan ada juga yang mengisinya dengan kegiatan-kegiatan lain.

Bagi saya, seorang anak rantau, liburan adalah timing yang pas untuk dinikmati di di rumah. Menghabiskan waktu yang tidak sebentar untuk menikmati suasana kampung halaman dan melihat serta menghabiskan waktu dengan orang-orang terkasih adalah hal yang sangat membahagiakan. Di rumah, saya bisa merasa segalanya menjadi berbeda. Ada banyak cerita, canda, tawa, dan memori-memori masa kecil yang seperti terputar di sana.

Saya bisa menimmati sisi rumah tempat saya bermain dulu, semasa kecil. Bisa bermain-main di pekarangan tempat saya tumbuh. Dan yang terpenting, saya bisa melihat orang tua yang seiring dengan berjalannya waktu, sekarang mereka terlihat mulai menua. Tapi kasih dan sayang mereka terhadap anak-anaknya seperti tidak berkurang sedikitpun.  Senang rasanya bisa menikmati masakan ibu yag tentu tidak bisa saya nikmati di perantauan. Bisa melihat bapak yang betapa tangguhnya dalam bekerja demi keluarga. Bisa melihat keknoyolan adik, yang ternyata sekarang sudah tumbuh besar. Ada banyak konsep ‘ternyata’ yang saya temui di rumah. Dan dari sini saya tahu, bahwa bahagia itu sederhana. Sangat-sangat sederhana.

Jumat, 21 Desember 2012

Kata Mereka... Ini yang Terakhir

D e s e m b e r

Begadang di malam ke-20, sengaja untuk ingin tahu dini hari ke-21. Ternyata manusia memang peramal terhebat. Bukannya aku percaya dengan ramalan tak mengenal iman itu. Dan aku bersyukur sampai saat ini, imanku masih baik, bahwa kiamat adalah rahasia terhebat Tuhan, yang tidak akan terbocorkan waktu pastinya.

Dan ternyata semua masih seperti biasanya. Sebuah kepuasan melihat peramal-peramal itu salah. Aku lega saat membuka pintu kamar, melihat keluar, dan semua masih baik-baik saja. Seduh kopi hitam, pekat, dan hangat masih bisa kunikmati dengan damai.

Aku lega masih bisa mengingat-Nya. Dan ramalan ini benar-benar hebat. Membuatku berpikir, seandainya hari itu benar-benar akan tiba. Membayangkan bahwa waktu begadangku di satu malam untuk melihat persilangan waktu siang-malam benar-benar menjadi yang terakhir. 

Akhirnya aku disadarkan. Untuk kembali dan masih akan terus mengingat Tuhan.

*
Terimkasih Tuhan

Selasa, 20 November 2012

Seekor Semut Hitam


Hari ini dan seperti hari-hari kemarin,
ribuan tetes air hujan merintik
jatuh bebas sampai menemui batas
lalu pecah, buyar...


Ada butir yang hancur memencar ke segala arah
karena mengenai selembar daun hijau muda
Seekor semut kecil bermain-main di atasnya,
yang telah hidup sepanjang hidupnya di sebuah pohon Beringin,
ikut terlempar sekenanya
dengan badan menengadah, mata melihat langit
Butir demi butir air menamparnya berulangkali,

Senin, 19 November 2012

Tak Seharusnya Aku di Sini

Dalam hidup ini, aku yakin tak semua orang mengerti tentang apa yang dia pilih, tentang jalan yang ia lewati, dan tentang tempat yang akan ia kunjungi. Mungkin kau pernah merasa salah pilih. Salah jalan. Salah langkah, Atau salah tempat. Kau benci dengan itu semua. Kau berteriak. Kau menangis. Kau marah. Tanpa berhenti mengumpat lalu bertanya 'Kenapa?'

Satu lagi, mungkin. Kau juga pernah mengalami satu perasaan, yang bernama penyesalan. Dan yang kau tahu, penyesalan itu selalu datang di akhir. Ya, ia selalu terlambat. Terlintas lagi sebuah tanda tanya besar di otakmu, lalu kau bertanya lagi, 'Kenapa?'

Dan jika saja kau mengalami itu semua, itulah aku di pagi ini. Sebuah perasaan jenuh dan merasa 'tak seharusnya aku di sini' selalu menjadi topik di hampir setiap pagi.

Menjemukan. Dan aku ingin berlari, pergi menjauh dari tempat ini.

Minggu, 11 November 2012

Mencari Dia yang Sama-Sama Bosan Sendiri

Pernahkah kau merasa sepi?
hingga merasa tak ada lagi yang peduli
denganmu?

Kau lihat orang-orang di sekitarmu
melihat keluar dan berbicara sekenanya
tanpa pernah melihatmu,
padahal kau ada di dekatnya


Pernahkah kau merasa benar-benar sendiri?
hingga penat semakin menjadi-jadi
dan bosan ingin mengutuki
...waktu?

N o v e m b e r

November...
dua dasawarsa silam
saat Dia memberi sebuah kesempatan
atas jawaban sebuah doa
Bunda...

Selamat pagi dunia,
sebelas November, tanggal kenangan
di mana jiwa menjadi baru
atas sebuah pengharapan
awal...

Suatu gelap memang telah melintas
di hari-hari lalu yang kelam
tapi siapa yang mau diam dalam kegelapan?
sementara cahaya menanti di depan, masih ada
kesempatan...

Agaknya hujan telah turun karena kegelapan
yang perlahan membasahi kekeringan,
dan menghapus segala kotor kesalahan,
dan noda hitam karena kejahatan
kemarin...

Mungkin tak ada kata sempurna
yang memang manusia tak berhak atasnya
tapi siapa yang tak menginginkan kemajuan?
selama esok masih bisa terang
benderang...

*
(sebuah pengharapan yang kembali bersemi, tepat di dasa warsa november)

--Bandung, 11 November 2012--







Senin, 15 Oktober 2012

Suatu Sabtu - Minggu yang Tidak Biasa

Sabtu dan Minggu...

Bagi kebanyakan orang, dua hari ini mungkin menjadi hal yang relatif begitu menyenangkan jika dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Kamu mungkin juga tidak terlalu terkejut dengan alasan mengapa saya berani menulis statement ini. Jelas saja karena pada dua hari ini, orang-orang bisa melakukan moment liburan. Walaupun bagi sebagian orang, mungkin hanya mendapat jatah berlibur di hari Minggu saja atau bahkan jatah liburnya lebih dari dua hari itu.

Well...

Tidak biasa. "Tidak biasa seperti apa nih, maksudnya?" Mungkin Kamu bertanya-tanya untuk mencari jawab.

Baik. Akan saya jelaskan.  Jadi, di dua hari ini, Sabtu dan Minggu (13-14 Oktober 2012), saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi panitia ITB Career Center 2012 yang berlangsung di Gedung Sabuga ITB.

Anyway, ITB Career Center 2012, bulan Oktober, merupakan jobfair terbesar di tahun 2012 yang diikuti oleh 74 perusahaan dengan latar belakang yang bermacam-macam. Acaranya diselenggarakan selama 3 hari (12-14 Oktober 2012). Namun, saya hanya ikut ambil bagian di dua hari terakhir saja.

Pada moment dua hari tersebut saya ditempatkan di ruang presentasi. Di sini, akan berlangsung presentasi dari perusahaan-perusahaan yang mendaftar untuk mempresentasikan segala hal tentang perusahaannya, meliputi sejarah berdiri, karir, prestasi, struktur dalam perusahaan, recruitment, dan tentu saja sesi tanya jawab bagi para peserta. Para peserta presentasi kebanyakan merupakan para jobseeker tetapi beberapa di antara mereka juga ada mahasiswa undergraduate yang ingin tahu lebih jauh tentang dunia perusahaan.
Ada 3 ruang presentasi, yang di dalamanya berlangsung presentasi dari beberapa perusahaan dengan latar belakang yang beragam. Beberapa ada yang berbasis perminyakan, pertambangan, konsultan, advertising, media & communication, construction, manufacturing, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di sini perusahaan-perusahaan dengan latar belakang yang sama diusahakan tidak akan ditempatkan di satu ruang yang sama pula. Perusahaan-perusahaan dengan latar belakang yang sama akan dibagi per ruang dengan komposisi yang sebisa mungkin sama. Sehingga dalam sebuah ruang presentasi, kita akan menemui sebuah perusahaan dengan background yang berbeda.

Dan saya ditempatkan di ruang presentasi 2.

Mendapatkan posisi untuk menjaga ruang presentasi merupakan satu kebahagiaan tersendiri bagi saya. Kenapa? Karena saya dapat dengan leluasa ikut serta mendengarkan prsentasi dari setiap perusahaan yang masuk dengan gratis. hehe...

Di sana, saya bertanggung jawab terhadap semua hal yang berkenaan dengan presentasi setiap perusahaan. Mulai dari mempersiapkan laptop, infokus,  dan juga microphone, mengedarkan buku tamu, serta sebagai PJ timekeeper yang mengingatkan slot waktu presentasi setiap perusahaan.

Ada suka duka yang saya alami sebagai penjaga ruang presentasi. Dan tentunya ada pelajaran berharga juga yang ingin saya bagi kepada kalian.


Satu ruang satu orang. Begitu yang saya alami, harus menjaga satu ruangan penuh sendirian. Karena partner saya yang sebelumnya diamanahi untuk menjaga ruang prsentasi 2 bersama saya secara tiba-tiba sakit dan tidak bisa ikut serta dalam acara. Dan percayalah, kawan. Ini sangat melelahkan. Mungkin kali ini saya harus percaya dengan kata-kata Danlap  Osjur Himpunan saya beberapa waktu yang lalu, bahwa lapangan itu sulit untuk diprediksi. Dan benar saja, selama dua hari ini, ada-ada saja hal tak terduga yang tiba-tiba terjadi. Seperti infokus yang bermasalah sehingga pihak perusahaan merasa jengkel lalu memarahi saya habis-habisan. 

Dan saat-saat pihak perusahaan marah seperti ini, sebetulnya saya merasa gondok setengah mati. Tapi kembali saya mengingat syarat awal ketika perekrutan panitia. Bahwa apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya, senyum tetap menjadi harga mati. Jadi... ya, saya tetap mencoba untuk selalu tersenyum dengan maki-makian yang saya terima.

Suatu visualisasi manusiawi juga terlihat dengan gamblang di sini. Pernah dengar ungkapan "Ada gula ada semut?"
Ya...! Ungkapan itu nampaknya benar-benar mutlak benar untuk keadaan dua hari ini. Di mana dalam sebuah sistem yang yang di dalamnya terdapat begitu banyak kenikmatan, maka secara spontan sistem itulah yang akan diserbu oleh variabel-variabel terkait.

Ceritanya begini. Di hari Sabtu, waktu itu, di ruang 1 sedang berlangsung presentasi dari sebuah perusahaan energi yang bergerak dalam segala aspek tentang minyak dan gas, yang (katanya) terbesar di dunia. Sementara di ruang 2 (tempat saya berjaga) dalam waktu yang hampir bersamaan berlangsung presentasi dari perusahaan asing penghasil barang-barang konsumen. 

Dan tahukah Anda, betapa memprihatinkannya kondisi ruang presentasi ruang 2. Dalam tempo 1 jam jdwal presentasi, hanya ada satu orang saja yang masuk untuk mendengarkan presentasi dari perusahaan. Sehingga 1 orang dibriefing oleh 2 orang dari perusahaan tersebut.

Lantas di mana pengunjung dan jobseekers yang lain?  

Seperti sebuah magnet, ruang prentasi 1 yang diisi oleh perusahaan yang berbasis minyak menarik orang-orang Indonesia ke dalamnya. Dan dampaknya dua ruang prsentasi yang lain harus rela sepi. 

Dalam kasus ini, sangat terlihat tabiat orang Indonesia yang begitu bernafsu terhadap sesuatu yang berbau minyak. Banyak orang yang ingin ke sana. Banyak orang yang memaksa agar bisa masuk ke dunia perminyakan padahal jelas background mereka bukan di situ.

Apa yang sebenarnya mereka ingin cari? Saya pernah berbincang dengan kawan saya. Sebut saja namanya X.

X: Gw pengen ke Schlumberger boi.
A: Oh ya, kenapa? Bukannya sekarang kamu kuliahnya di Biologi?
X: Itu keinginan boi, semua pasti bisa berangkat dari  mimpi. Gw bisa ambil S2 di perminyakan kan...
A: (geleng-geleng)... Emang kalau udah di  sono mau ngapain?
X: Ya kerja. Dapet duit banyak.
A: (...)

Di sini saya cukup tahu alasan mengapa orang-orang banyak yang bermimpi dapat bekerja di perusahaan minyak. Karena terang saja, bisa mendapatkan kesempatan bekerja di sana, secara itung-itungan matematis berarti kemakmuran yang didapat. Karena gajinya sudah jelas akan melangit.

Nampaknya edan juga ya, kalau semua orang ingin pergi ke dunia minyak. haha... Dan untung saja saya bukan termasuk ke dalam kategori orang-orang yang seperti itu.

Saya tidak ingin menjadi orang-orang yang teramat kaya yang mempunyai gaji selangit, kelak. Tetapi, saya hanya ingin menjadi orang berkecukupan, di mana setiap keinginan saya dapat terpenuhi. Dan sejauh ini, keinginan saya akan sesuatu yang bersifat duniawi tidaklah aneh-aneh.  Dan semoga sampai nanti juga selalu seperti itu. Karena yang terpenting bagi saya adalah kebahgiaan. Apa gunanya mengerjakan dan menekuni sesuatu yang tidak kita suka? 

Kamu salah satu orang yang ingin masuk ke perusahaan minyak? Yakin passion kamu ada di situ? Atau... hanya ingin berorientasi pada duit?

Well...! That's your choice, guys!!! :-)























Jumat, 05 Oktober 2012

Kau, Waktu, Kesempatan, dan Perasaan

Perasaan. Sesuatu yang dimunculkan begitu saja oleh sebentuk hati. Kadang dia begitu lembut tercipta dalam suasana yang begitu melankoli. Namun tak jarang dia hadir sebagai sesuatu yang liar, yang kita bahkan tak mampu sedikitpun mengendalikannya.

Kesempatan. Sesuatu yang muncul paralel dengan waktu. Keduanya identik, menghadirkan jeda untuk dicerna dan menciptakan spasi untuk dilewati. Namun, satu yang harus manusia ketahui adalah waktu tak selalu beriringan dengan kesempatan. Waktu selalu ada, yang sejatinya selalu hadir tanpa henti. Namun, kesempatan, dia tidak selalu sejalan dengan waktu.

Kau. Kau seperti waktu. Selalu hadir dalam ruangku, di mana kekosongan yang akhirnya benar-benar menjadi kosong. Karena kau mengisinya dengan perlahan. Kau tidak seperti kesempatan, yang sejenak datang lalu sedetik kemudian dapat menghilang. Kau lebih dari sekadar diam menciptakan jeda dan spasi untuk kueja. Namun, entah bodohnya aku yang sampai saat ini masih terus mengeja dan mengeja tanpa bisa membahasakannya.

Kau (lagi). Kau mungkin tidak mengerti dan tidak merasa. Entahlah. Tapi, mengapa harus aku yang mengerti? Juga kenapa aku yang harus mengeja?   

Kau, waktu, dan kesempatan, perasaan. Orang bilang jangan pernah menunggu kesempatan. Karena ia tak seperti waktu yang bahkan selalu lewat untuk sekadar menyapamu. Kesempatan itu selalu ada, hanya saja mata kita terlalu kabur untuk melihatnya. Mungkin perlu sejumlah keberanian untukku memulai melihat kesempatan itu menjadi nyata dan lalu menurutinya untuk mengungkapkan perasaan yang semakin liar ini.

(Untuk seseorang yang begitu istimewa)

Rabu, 19 September 2012

Masih (Mimpi)

Ketika mentari pagi terbangun,
dia merajutnya, sebuah mimpi yang dia agungkan

Ketika siang hadir bersama teriknya,
dia terbangun, masih bersama mimpinya yang terlalu timur

Ketika senja bergelantungan mega,
dia masih terlihat siap, masih dengan mimpinya

Ketika malam datang membunuh mentari,
dia masih terjaga, masih bersama mimpi paginya

Hari demi hari berlalu,
pagi, siang, senja, malam bergantian melaju

Bulan demi bulan menghilang
membawa satu cerita fiksi tentang mimpi

Tahun, windu, abad, dan apapun itu namanya berlanjut
dan dia masih tetap sama, membanggakan mimpinya

Merah tua memulai memudar, berganti warna muda
mimpi bulat mulai menghilang, berganti cerita usang

Sampai masa senja datang, sampai mata terlihat tak terang
dia mulai berpikir, apa gunanya bermimpi?

Dia berpikir dan masih berpikir
dan masih bertanya mengapa harus selalu berpikir?

Dia mempertanyakannya kepada Tuhan
sampai dia benar-benar sadar, mimpinya menghilang

Rabu, 05 September 2012

Tentang Sebuah Cerita: Drawana


(5 September 2012)
Kita lahir melalui cerita dan akan mengalir membawa cerita. Drawana... Langit, Laut, Satu!!!
Sebuah nama, sebuah cerita. Tepat satu tahun yang lalu, kita dilahirkan dan diikat menjadi satu, atas nama: DRAWANA. Masih segar di ingatan (walau aku tak ikut berperan memberi masukan nama Drawana), sang kapten berjuluk Kopral Age mencetuskan nama ini via grup Facebook DRAWANA. Nama ini dibuat tidak lekas jadi dan asal buat. Tanggal lahirnya cantik, 5/9/11, tepat pukul 17.00 WIB. Yang memang tanggal tersebut dipilih sesuai jumlah anggota Drawana: 59. 

Kata 'Drawana' lahir dari bahasa Sansekerta, yang bermakna 'mengalir'. Di mana, mengalir adalah kata yang pas untuk menggambarkan dua kelompok yang saling 'mengalir', Oseanografi dan Meterologi. Ya, mengalir. Oseanografi dengan lautnya, dan Meteorologi dengan udaranya. Keduanya adalah fluida yang sama-sama mempunya sifat yang sempurna: mengalir. Begitu penjelasan singkat seorang Age. 

Bagiku, Drawana adalah sebuah kepingan yang terpisah lalu kembali  menggenapi mozaik hidup yang sampai saat ini masih belum utuh. Bersamanya, terjalin sebuah cerita menuju kehidupan yang membuatku lebih dewasa dan lebih mengerti sebuah arti kata baru: persahabatan.

Selamat hari jadi yang pertama, Drawana. Semoga kita semakin satu dan dewasa!