Dalam hidup ini, aku yakin tak semua orang mengerti tentang apa yang dia pilih, tentang jalan yang ia lewati, dan tentang tempat yang akan ia kunjungi. Mungkin kau pernah merasa salah pilih. Salah jalan. Salah langkah, Atau salah tempat. Kau benci dengan itu semua. Kau berteriak. Kau menangis. Kau marah. Tanpa berhenti mengumpat lalu bertanya 'Kenapa?'
Satu lagi, mungkin. Kau juga pernah mengalami satu perasaan, yang bernama penyesalan. Dan yang kau tahu, penyesalan itu selalu datang di akhir. Ya, ia selalu terlambat. Terlintas lagi sebuah tanda tanya besar di otakmu, lalu kau bertanya lagi, 'Kenapa?'
Dan jika saja kau mengalami itu semua, itulah aku di pagi ini. Sebuah perasaan jenuh dan merasa 'tak seharusnya aku di sini' selalu menjadi topik di hampir setiap pagi.
Menjemukan. Dan aku ingin berlari, pergi menjauh dari tempat ini.
Tampilkan postingan dengan label R a n d o m. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label R a n d o m. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 November 2012
Jumat, 05 Oktober 2012
Kau, Waktu, Kesempatan, dan Perasaan
Perasaan. Sesuatu yang dimunculkan begitu saja oleh sebentuk hati. Kadang dia begitu lembut tercipta dalam suasana yang begitu melankoli. Namun tak jarang dia hadir sebagai sesuatu yang liar, yang kita bahkan tak mampu sedikitpun mengendalikannya.
Kesempatan. Sesuatu yang muncul paralel dengan waktu. Keduanya identik, menghadirkan jeda untuk dicerna dan menciptakan spasi untuk dilewati. Namun, satu yang harus manusia ketahui adalah waktu tak selalu beriringan dengan kesempatan. Waktu selalu ada, yang sejatinya selalu hadir tanpa henti. Namun, kesempatan, dia tidak selalu sejalan dengan waktu.
Kau. Kau seperti waktu. Selalu hadir dalam ruangku, di mana kekosongan yang akhirnya benar-benar menjadi kosong. Karena kau mengisinya dengan perlahan. Kau tidak seperti kesempatan, yang sejenak datang lalu sedetik kemudian dapat menghilang. Kau lebih dari sekadar diam menciptakan jeda dan spasi untuk kueja. Namun, entah bodohnya aku yang sampai saat ini masih terus mengeja dan mengeja tanpa bisa membahasakannya.
Kau (lagi). Kau mungkin tidak mengerti dan tidak merasa. Entahlah. Tapi, mengapa harus aku yang mengerti? Juga kenapa aku yang harus mengeja?
Kau, waktu, dan kesempatan, perasaan. Orang bilang jangan pernah menunggu kesempatan. Karena ia tak seperti waktu yang bahkan selalu lewat untuk sekadar menyapamu. Kesempatan itu selalu ada, hanya saja mata kita terlalu kabur untuk melihatnya. Mungkin perlu sejumlah keberanian untukku memulai melihat kesempatan itu menjadi nyata dan lalu menurutinya untuk mengungkapkan perasaan yang semakin liar ini.
(Untuk seseorang yang begitu istimewa)
Label:
R a n d o m
Selasa, 04 September 2012
Hey!
Hey!!!
Jadi bagaimana kabarmu pagi ini, Cinta?
Apakah kau masih seperti biasanya, terlihat bercahaya di antara terangnya cahaya mentari?
Apakah kau masih terlihat menarik walau tanpa aksesori apapun?
Apakah kau akan datang pagi ini dengan menunjukkan muka manismu lalu tersenyum penuh riang menghibur?
Aku percaya kelak kita akan bersama meski sekarang belum. Apalagi yang bisa kulakukan, selain percaya? Karena tidak ada kesempatan untukku berbicara?
(Dimana Cinta, kucari, kumenemukannya, dan dia enggan berbicara).
Jadi bagaimana kabarmu pagi ini, Cinta?
Apakah kau masih seperti biasanya, terlihat bercahaya di antara terangnya cahaya mentari?
Apakah kau masih terlihat menarik walau tanpa aksesori apapun?
Apakah kau akan datang pagi ini dengan menunjukkan muka manismu lalu tersenyum penuh riang menghibur?
Aku percaya kelak kita akan bersama meski sekarang belum. Apalagi yang bisa kulakukan, selain percaya? Karena tidak ada kesempatan untukku berbicara?
(Dimana Cinta, kucari, kumenemukannya, dan dia enggan berbicara).
Label:
R a n d o m
Rabu, 29 Agustus 2012
Sedetik Lebih Lama
Dia. Akhirnya hari ini kita bertemu. Ada banyak
suara, banyak rupa, banyak canda, banyak semuanya.
Tapi hanya dia yang menjadi pusat penglihatanku.
Dia di depan. Di bangku depan. Juga melihat ke depan.
Sementara aku di belakang, juga melihat ke depan.
Tapi berbeda. Tak sama dengannya, apa yang tengah kuperhatikan. Dia melihat
sesuatu yang memang sudah seharusnya kita dan orang-orang lain perhatikan. Tapi
aku tidak.
Dia. Masih seperti dulu. Selalu menarik dengan
sendirinya. Bahkan diam pun indah untuknya. Tanpa tempelan, aksesori,
perhiasan. Tanpa embel-embel yang dibuat-buat. Iya. Dia alami. Dan aku
suka.
Dan itulah kenapa hari ini aku melakukannya
Sedetik menatapnya lebih lama, lebih dalam dibanding biasanya. Aku tak berani
lama-lama. Sungguh. Karena dia akhirnya tahu sesorot mata sedang memandangnya
dari kejauhan.
Dia menatapku. Mata kita bertemu sekarang, saling menatap. Datar. Aku malu. Masih malu-malu.
Label:
R a n d o m
