Sabtu, 20 Juli 2013

Daripada Ragu-Ragu Lebih Baik Pulang

Cerita ini sebenarnya telah  terjadi di beberapa hari yang lalu. Waktu itu, Sabtu (14/07) ketika tiba masa perayaan wisudaan ITB yang kedua di tahun ini. Dan saya sedang berada dalam sebuah perjalanan menuju kampus dari tempat kosan untuk meramaikan suasana dengan mengikuti perayaan tersebut. Hari masih pagi, di mana Bandung diselimuti cuaca berawan dengan disertai rintik-rintik air hujan yang turun perlahan. Mungkin ini nyanyian dari Tuhan untuk menambah eksotisnya hari wisudaan.
Dalam sebuah perjalanan mengendarai sepeda motor yang saya parkir di tempat parkir sipil ITB, saya melangkahkan kaki menuju sekretariat himpunan. Kedatangan saya sudah ditunggu teman-teman untuk bergabung bersama dalam sebuah kelompok arak-arakan. ITB adalah sebuah kampus dengan budaya yang begitu kental. Berhimpun, musyawarah, unit, serta arak-arakan adalah beberapa di antaranya. Sebagai anggota himpunan, tentu sudah menjadi keharusan untuk mengarak rekan satu himpunan yang di hari itu telah menjadi sarjana.

Selasa, 16 Juli 2013

Makna Ganda dari Sebuah Tanda Titik

Sebagai seorang manusia, kita membutuhkan komunikasi untuk dapat berinteraksi dengan sesama. Dalam hal ini, bahasa memegang peranan penting. Hidup ini tidak sederhana. Mungkin kamu sudah tahu mengenail hal ini. Karena ketidaksederhanaan ini, sering terdapat beberapa kata—yang merupakan bagian dari bahasa yang mempunyai ejaan sama namun memberikan makna yang berbeda. Kalau saya tidak salah ingat, kata guru Bahasa Indonesia semasa SMP dulu namanya homograf.
Titik. Mungkin sebagian besar dari kita mengartikan kata ini untuk menyebutkan sebuah tanda baca “.”. Tanda ini biasanya kita gunakan untuk menandai akhir dari sebuah kalimat atau pernyataan. Ya, dalam hal ini ‘titik’ berarti ‘akhir’. Akhir berarti suatu keadaan dimana sudah tidak akan lagi kelanjutannya. Namun, sebuah kalimat yang diakhiri dengan tanda titik tidak berarti ‘tidak ada lagi kalimat setelah ini’. Betul?

Sabtu, 13 Juli 2013

Satu Cerita dari Rumah

Jumat (12/07/13). Hari ini adalah hari ketiga di bulan Ramadhan tahun ini. Dan, tidak seperti hari-hari awal di dua Ramadhan sebelumnya yang selalu saya habiskan di Bandung, awal ramadhan tahun ini saya habiskan di rumah. Liburan panjang di tahun ini tepat datang sebelum Ramadhan dan bahkan waktunya menerus sampai ke libur Lebaran. Waktu libur selama 3 bulan seharusnya menjadi hari yang begitu lama. Tetapi, libur 1 bulan pertama harus saya habiskan di Bali. Bukan untuk suatu liburan menikmati keindahan pulau itu, bukan. Tetapi sebuah kuliah lapangan di Gondol—daerah pinggiran Bali selama hampir 3 minggu memaksa saya untuk melupakan libur 1 bulan pertama. Kulit saya menjadi eksotis karena seringnya panas-panasan saat ekskursi. Okay, fine!
Berlanjut ke hari libur di bulan berikutnya. Libur bulan kedua saya habiskan di Bandung dan di rumah. Di Bandung sibuk untuk mengurus proposal majalah himpunan yang begitu ribet karena harus menunggu kerja dari tim-tim redaksi. Dan akhirnya, setelah proposal kasar jadi, dan sudah melalui pertemuan dengan kaprodi, proposal bisa teratasi. Di sisa liburan di bulan kedua, akhirnya saya bisa pulang.
Rumah... Ah akhirnya sampai juga saya di lirik terakhir lagu ‘Home’-nya Michael Buble.
I’m coming back home...

Sabtu, 02 Maret 2013

Deadline Bersama Asap Kopi

Kopi pagi ini: kurang ekstrem tapi tetap berkarakter. Tingkat kepahitan: sedang. Sama seperti keyakinan untuk 'berbicara' dengan dia.

Well well well. Saya terlalu biasa bekerja di bawah deadline. Dan baru akan bersungguh-sungguh bila telah tiba waktu menuju deadline.

Mungkin waktu untuk dia juga harus seperti itu. Diperlakukan sama seperti tugas mengumpulkan laporan. Ada batas waktu bernama deadline.

Tapi, hidup seperti kematian. Bila terus menjalaninya di bawah deadline, sementara kita tertekan di dalamnya.

Diam adalah senjata mematikan. Ada sistem memendam dalam-dalam. Akumulasi keberanian untuk sebuah kejujuran. Sampai tiba di batas waktu dan ruang. Tempat di mana kita terdesak, terhimpit lapisan tipis bernama: keterbatasan.

Jika sudah seperti itu, kemana kita akan mengadu? Apalagi berlari mencari kesempatan? Jika sudah tidak lagi kita temukan spasi ruang dan waktu? (Sementara kita hanya bisa bergerak bila ada jarak dan melangkah bila ada spasi).

Mungkin kita terlalu naif untuk memahami karakter ruang dan waktu. Tapi kenyataan tidak pernah mengenal kata naif. Dia selalu bisa menampar kita kuat-kuat. Membuat kita terjatuh dan kesal sejadi-jadinya. Lalu membuat kita sadar dan mengerti. Bahwa sebenarnya, setiap waktu adalah deadline.

"Hargailah waktu dengan baik, sebelum kesempatan untuk menghargai waktu itu habis". (Adaptasi dari quote Tukul Arwana.)


Rabu, 27 Februari 2013

Beranjak dari Nadir

27 Februari: Kembalinya jiwa dari titik nadir.

1.
Telah kembali dari keadaan jenuh karena rutinitas. Sebenarnya aneh, jenuh ini datang terlalu dini, tapi begitulah hidup: penh sensasi dan anomali. Mungkin seperti iklim. Tetapi akhirnya jiwa dapat kembali. Alhamdulillah. Di dini hari, bisa kembali bersujud (mengingat-Nya).

2.
Jenuh itu telah hilang berkat kegigihan. Relaksasi otot dan otak dan tentu saja... kopi. Kopi pagi ini berasa pas. Tidak pahit, tidak pula manis. Sama seperti cinta yang tidak banyak memberi dan juga tidak banyak menerima.

3.
Saya pembenci kesempurnaan di dunia. Sebenarnya ini cukup absurd. Karena kesempurnaan di dunia tidaklah ada (jika memang iman manusia itu tangguh). Kesempurnaan di sini adalah tentang Barcelona FC yang selalu menang selama beberapa tahun terakhir. Akhirnya digdaya mereka berakhir, setelah tim asal Italia, AC Milan memukul mereka 2-0 dan si putih Real Madrid hari ini menampar mereka lagi dengan 3-1. Sepertinya CR7 dan Varane mempunyai hobi baru: membobol gawang Pinto.

4.
Ada amanah besar yang menanti. Memilih menjadi kaki kanan "dewa oseanografi" bukan main-main. Jadi sepertinya harus berani bertarung lebih dengan pilihan dan keputusan. Seperti tweet seorang teman: "Sulitnya hdup ini ketika semuanya harus memilih. Harus ada yang dikorbankan. Aturan mutlak - @jazmanghufran"
-->